Rabu, 11 Desember 2013

PROFIL SINGKAT KH. ZAMRODJI AL-MURSYID PENDIRI PP. RAUDLATUL ULUM KENCONG

HADLROTUSY SYAIKH ROMO KH. ZAMRODJI AL-MURSYID

Beliu adalah nomor lima dari tujuh bersaudara putra-putri Simbah KH. Syairozi, beliau sebagai seorang pecinta ilmu, sehingga seluruh waktu yang beliau miliki sepanjang hidupnya dihabiskan untuk mengabdi kepada Alloh Robbul ‘Izzah dan berjuang di jalan-Nya, terbukti adanya warisan sebuah lembaga pendidikan Pondok Pesantren Putra Putri Raudlatul Ulum Kencong Kepung  Kediri,
yang mana di sanalah tempat para pencari ilmu bernaung, dan di sana pula pusat kegiatan pengamal thariqah. Karena disamping sebagai pengasuh pesantren Beliau juga sebagai Seorang Guru Besar Mursyid salah satu aliran thariqat yang mu’tabaroh ( al-Qadiriyyah wan-Naqsyabandiyyah ).

            Sejarah awal dan perkembangan Hadlrotusy Syaikh menekuni dunia thariqah adalah : kisaran awal tahun lima puluhan, sekembalinya beliau dari mondok di pondok Lirboyo Kediri, beliau lanjutkan menuntut ilmu di pondok Darul Ulum Rejoso Jombang, dan tidak lama berselang dari kedatangan beliau di pondok Rejoso, beliau diberi tugas dan amanah oleh Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum, yaitu Romo KH. Romli Tamim, ” Jam !, Kowe baliyo !, golek konco !, yen wis oleh aku tak teko Kencong, tak bai’ate, dawuh mBah Kiai Romli kepada beliau Hadlrotusy Syaikh.
            Setelah mendapatkan dawuh dari gurunya, beliau kundur ke Kencong yang disertai oleh seorang teman bernama Khoiri, kemudian beliau rawuh ke Dusun Nongkorejo menemui mBah Mahalli, seraya berkata ” kulo dugi nggen sampean, sepisan silaturrohim, kaping kalih kulo dipun utus Romo Kiai Romli kapurih pados konco diajak mlebet thariqah, laa . sakniki kulo nyuwun tulung Sampean pados konco.
            Atas permintaan dari beliau, kemudian mbah Mahalli mengumpulkan beberapa orang dari Dusun Nongkorejo sendiri, juga dari Desa Pleringan, dan akhirnya mBah Mahalli berhasil, dan mendapatkan 17 orang teman yang sanggup masuk thariqah dan siap dibai’at. setelah mBah Mahalli menyampaikan laporan kepada Hadlrotusy Syaikh, sudah mendapatkan teman 17 orang, maka beliau matur kepada Romo Kiai Romli, ” Yo  wis, suk Rebo Legi, Sasi Besar tahun 1952 aku tak bai’at nyang nggon-mu Kencong ”, jawab Romo Kiai Romli atas laporan Hadlrotusy Syaikh.
            Keinginan Romo Kiai Romli mengadakan bai’atan pertama di Kencong sudah terlaksana, dan setelah bai’atan selesai Romo Kiai Romli dawuh ” Besuk Sabtu Wage mulai khususiyyah ! “ .
            Pada saat itu ( setelah diadakan bai’atan pertama ) Hadlrotus Syaikh masih meneruskan mondoknya di Rejoso, oleh karena itu yang menjadi imam pada kegiatan khususiyyah yaitu mBah Kiai Djawadi dari pondok Bukaan Desa Keling, sedang wakil imam yaitu mBah Kiai Sayyid dari Desa Gedangan Kecamatan Kandangan.
            Perkembangan selanjutnya kegiatan khususiyyah dan selapanan thariqah di Pondok Kencong diadakan setiap hari Sabtu Wage sampai sekarang, karena meneruskan apa yang didawuhkan Romo Kiai Romli selesai bai’atan pertama tahun 1952.
            Pada pasca pesta demokrasi tahun 1977 terjadilah gejolak dalam lingkungan warga dan tokoh-tokoh thariqah, gejolak tersebut muncul karena masuknya KH. Mustain Romli ke Golongan Karya. Karena dipicu oleh sentimen kepartaian saat itu, maka banyak warga dan tokoh thariqah yang mufaroqoh dari Rejoso, antara lain KH. Adlan Ali Cukir Diwek Jombang, Hadlrotusy Syaikh dan masih banyak lagi, akhirnya  KH. Adlan Ali sowan dan berbai’at mursyid kepada KH. Muslih Abdurrohman Mranggen Jawa Tengah. Sekembalinya KH. Adlan Ali dari Mranggen, kemudian masyarakat yang akan masuk thariqah sowan dan bai’at kepada KH. Adlan Ali, pada saat mBah Mahalli sowan KH. Adlan Ali mendapat amanah dari Hadlrotusy Syaikh supaya matur kepada KH. Adlan Ali ” aku titip matur karo Kiai Adlan, yen Pak Zamrodji masalah mursyid nderek Panjenengan kemawon”. dawuh Hadlrotusy Syaikh kepada mBah Mahalli.
            Mboten !. jawab Kiai Adlan Ali mendengar titipan pesan dari Hadlrotusy Syaikh yang disampaikan langsung oleh mbah mahalli. Kemudian Kiai Adlan menambahkan ”Kiai Zamrodji kersane dados Guru Mursyid piyambak”.
            Tidak lama berselang dari gejolak warga thariqah tersebut, KH. Makhrus Ali Lirboyo mengumpulkan para Kiai se Kediri untuk  membahas keberadaan Guru Mursyid thariqah di daerah Kediri, KH. Makhrus dalam pertemuan para Kiai tersebut bertanya kepada para kiai yang hadlir,  ” sinten sing Sampean pilih dadi Guru Mursyid ?, ”
Para Kiai mengharap kepada kiai Makhrus untuk menjadi Guru Mursyid, tetapi Kiai Makhrus “ mboten kerso ”.dan Kiai Makhrus sudah punya pilihan, ” Ben Kiai Zamrodji wae sing dadi Guru Mursyid ”. kata KH. Makhrus Ali. Atas pilihan KH. Makhrus Al tersebut para kiai yang hadlir menyatakan setuju. Karena dorongan dalam pertemuan itu, kemudian hadlrotusy Syaikh berangkat ke Mranggen untuk mengambil bai’at Guru Mursyid kepada Romo KH. Muslih Abdurrohman, salah satu Mursyid Thariqah al-Qadiriyyah wan-Naqsyabndiyyah yang mengembangkan thariqah di wilayah Jawa Tengah, beliau sowan ke Mranggen diantar oleh Bp. KH. Jupri Karangkates Kediri dan Bp. Syafi’i Sulaiman Bangsongan Kediri.
            Setelah mengambil bai’at kepada Romo KH. Muslih beliau Hadlrotusy Syaikh mengadakan bai’atan di Kencong, pada saat itu bai’atan diadakan setiap hari Sabtu, ” Mahalli !, bai’atan iki penake ora pendak Sabtu, mengko mundak kekerepen ”. kata Hadlrotusy Syaikh kepada mBah Mahalli. Kemudian mBah Mahalli matur ” Lajeng sekecane pendak nopo ? ”, ”sing penak selapan dino sepisan ”. jawab Hadlrotusy Syaikh.
            Pak Zam !. kulo kemutan naliko bai’atan pertama wonten ngriki dinten Rebo Legi, khususiyyah dinten Sabtu Wage, ” iyo Sabtu Wage iku wae bai’atan, dadi selapan dino sepisan ”. kata Hadlrotusy Syaikh kepada mBah Mahalli. Dan murid thariqah yang mengambil bai’at dari beliau sampai saat ini tersebar di berbagai daerah di Jawa Timur dan juga di daerah-daerah lain, khususnya para alumni pondok Pesantren Raudlatul Ulum.
            Hari Sabtu Wage tanggal 11 September 1999 , sebuah hari yang menjadi saksi terhadap perjuangan beliau dalam dunia thariqah, sebab hari itulah kesempatan beliau mengikuti kegiatan Sabtu Wage-an, pada hari itu pula beliau masih memberikan pengajian kepada para murid thariqah, dan beliau mengadakan bai’atan yang terakhir sebelum beliau sowan ke Hadlirat Alloh Ta’ala dan meninggalkan kita untuk istirahat selama-lamanya.
            Pembai’atan murid yang diadakan setiap hari Sabtu Wage sempat ditiadakan sekali, karena kondisi kesehatan Hadlrotusy Syaikh pada bulan-bulan terakhir, dan Sabtu Wage terakhir menjelang beliau wafat, kondisi kesehatan beliau makin lemah, sehingga bai’atan dilakukan oleh K. Muhammad Nuril Anwar putra Hadlrotus Syaikh yang sudah dibai’at sebagi Guru Mursyid pada malam Kamis Pahing tahun 1413 H. yang Pembai’atan Gus Muh ( panggilan akrabnya Kiai  Muhammad Nuril Anwar ) sebagai Guru Mursyid disaksikan oleh KH. Rofi’i Hasan yang kala itu sedang menjabat sebagai Ketua Pengurus Koordinator Pusat.
Kembali kepada masa kecilnya Hadrotusy Syaikh, bahwa : masa remajanya beliau menuntut ilmu dan berguru kepada Simbah KH. Dimyathi bin KH. Abdulloh bin KH. Abdul Manan di Pondok Pesantren Tremas Pacitan, kala itu KH. Dimyathi bin KH. Abdulloh adalah sebagai Pengasuh Pesantren Tremas, yang sudah  banyak mencetak alumni pesantren salaf dan selanjutnya menjadi orang-orang penting dan tokoh-tokoh Islam papan atas, semisal mantan Menteri Agama DR. KH. Mu’thi Ali, MA. KH. Ali Ma’shum, Pengasuh Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak Bantul Jogjakarta, beliau mantan Rois Am PBNU, waliyulloh Simbah KH. Abdul Hamid Pasuruan, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh lulusan pesantren Tremas yang lain.
            Di pondok Tremas Hadlrotus Syaikh berhasil melakukan tirakatan ( riyadloh ) dengan berziyarah rutin ke makam Perintis, Pendiri Pondok Pesantren Tremas Simbah KH. Abdul Manan   ( kakek dari Syaikh Mahfudh at-Tremasi tsummal Makky ) dan Masyayikh Tremas selama 41 Jum’ah, dengan jalan kaki melui jalan setapak dilereng bukit yang jaraknya dari pesantren sekitar sepuluh kilo meter, bahkan diyakini oleh segenap santri Tremas atau ada mitos ” sing sopo kuat ziyaroh Masyayikh Tremas 41 Jum’ah ora pedot, dijamin mulih dadi Kiai Gede ”. malah ada yang mengatakan bahwa itu bukan hanya mitos, akan tetapi sebuah sayembara dan jaminan dari sesepuh sekaligus perintis pesantren Tremas, Dan di sanalah Hadlrotusy Syaikh bertemu dan bisa berguru kepada mBah Hamid, panggilan akrabnya KH. Abdul Hamid Pasuruan Bahkan kepada mBah Hamid beliau sempatkan menimba ilmu adab / lughoh arobiyah dengan kajian kitab Uqudul Juman yang memuat seribu nadhom itu. Karena Hadlrotusy Syaikh menguras ilmunya mBah Hamid belum selesai, tetapi mBah Hamid akan boyong, maka Hadlrotusy Syaikh berusaha mengejar dan mengikuti mBah Hamid kemana sang Guru pergi. Itulah sekilas sejarah proses  pengembaraan Hadlrotusy Syaikh belajar dan mondok di Pondok Pesantren ujung barat wilayah Jawa Timur yang berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah.
Setelah belajar di Tremas Hadlrotus Syaikh lanjutkan dengan berguru di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, di Lirboyo beliau sebagai muassis Madrasah Diniyyah yang sampai saat ini sudah mengantarkan ulama-ulama papan atas yang berjuang dengan nasyrul ilmi di berbagai daerah se Nusantara, bahkan banyak yang datang dari negara tetangga, khususnya negara Malaysia.
Hadllrotusy Syaikh belum merasa puas dan berhenti di Lirboyo dalam proses pencarian ilmu, setelah cukup dalam belajarnya di Lirboyo, beliau lanjutkan mengaji di Pondok Rejoso Jombang. Dan di Rejoso beliau juga berguru ilmu thariqah serta berbai’at kepada mBah Yai Romli, panggilan akrabnya Simbah KH. Romli Tamim al-Mursyid.
Hadlrotusy Syaikh Romo KH. Zamrodji wafat pada hari Selasa Pahing, tanggal 8 Rojab tahun 1420 H, bertepatan dengan tanggal 19 Oktober 1999 M. beliau dikaruniai lima orang putra yang semua laki-laki. disamping itu tinggalan beliau berupa berbagai lembaga pendidikan yang saat ini bernaung di bawah YAPPRUK  (Yayasan Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Kencong). Termasuk garapan warga thariqah al-Qadiriyyah wan-Naqsyabandiyyah yang muridnya sudah menyebar ke daerah-daerah se- Jawa Timur dan sebagian luar Jatim  bahkan di luar pulau Jawa, khususnya para alumni Pondok Pesantren Raudlatul Ulum.

Share this article

4 Tinggalkan jejak:

Posting Komentar

 
Copyright © 2017 RAUDLATUL ULUM KENCONG • All Rights Reserved.
back to top