Sabtu, 11 Januari 2014

Mengorbankan Dirinya Untuk Orang Lain

Risalah Tokoh Sufi HATIM AL-ASHAM Nama lengkapnya Abu Abdurrohman Hatim bin Alwan, terkenal dengan nama laqob ( julukan ) Al-Asham, wafat pada tahun 237 H. / 751 M. Beliau termasuk tokoh dan guru besar ( syaikh ) di tanah Khurasan, Beliau murid dari yang Mulia Syaikh Syaqiq, disamping itu beliau juga guru dari Syaikh Ahmad bin Khadrawaih. Syaikh Hatim dijuluki Al-Asham ( yang tuli ),
bukan karena beliau benar-benar tuli, akan tetapi karena pernah suatu kali beliau berpura-pura jadi orang yang tuli, dengan tujuan agar beliau bisa menjaga kehormatan dan harga diri seseorang dihadapan beliau.

Al-Ustadz Abu Ali Ad-Daqqoq rahimahuloh, bercerita, “ Ada seorang wanita muda belia, lagi cantik  rupa dan mempunyai kedudukan yang tinggi ditengah-tengah masyarakatnya, wanita tersebut datang untuk menemui Hatim, Ia bermaksud menanyakan sesuatu kepadanya. Namun tidak disangka dan amat tidak diharapkan oleh wanita tersebut, ditengah-tengah mengutarakan sesuatu yang ditanyakan kepada Hatim, wanita muda tersebut  tidak mampu lagi menahan dorongan isi perut yang meronta dan menghendaki kebebasannya, dan akhirnya, terpaksalah dia mengeluarkan suara dari dalam perutnya ( kentut) dengan penuh penyesalan dan kekhawatiran atas kejadian tersebut, yang memenuhi pikiran wanita tersebut adalah, akan dikemanakan wajahnya dan bagaimana kehormatan dirinya apabila tuan rumah mendengar suara kentut yang tidak bersahabat tersebut ?. bagaimana cara menutupi perasaan malu yang berkecamuk itu ?. yang pasti wanita tersebut merasa serba salah, sehingga wanita tersebut salah tingkah. Namun di tengah berkecamuknya pikiran wanita tersebut, Hatim tahu apa yang terjadi dan yang ada di balik perasaan tamunya, beliau tidak menginginkan tamunya bertambah malu karena pendengarannya terhadap kentut dia. Karena itu, beliau berusaha mencoba menutupinya dengan berkata kepada sang tamunya tersebut, “ Keraskan suaramu ! “, beliau berkata demikian karena berpura-pura tuli, akibatnya, wanita tersebut wajahnya berubah berseri-seri dan nampak amat gembira sehingga perasaan bersalah karena kentut yang tidak bersahabat  tadi tentu tidak didengar oleh Sang Hatim, tuan rumah, karena dia yakin bahwa tuan rumah adalah orang  yang  tuli. semenjak saat itu beliau Hatim dijuluki dengan Al-Asham, Hatim yang tuli.
Bagaimanapun beliau adalah seorang yang tinggi kedudukan, dan amat besar pengaruhnya di lingkungan masyarakat kala itu, namun beliau mau merelakan sebuah kehormatan dirinya terkorbankan, hanya untuk menjaga kehormatan dan harga diri orang lain, yang semestinya kehormatan dirinya lebih dipertahankan dari pada mementingkan harga diri orang lain.
Dalam kehidupan kesehariannya Hatim Al-Asham selalu berusaha menjauhkan diri dari pengaruh musuh abadi manusia, yaitu Syaitan, dan beliau bercerita bahwa merupakan rutinitas syaitan setiap pagi datang, syaitan selalu mencercaku dengan pertanyaan yang sangat menggoda, “ apa yang akan kamu makan ?, apa yang akan kamu pakai ?, dan dimanakah kamu akan tinggal ?”. saya tidak ingin terhanyut oleh jebakan syaitan tersebut, maka aku jawab pertanyaan tersebut dengan “ saya akan makan kematian !, mengenakan kain kafan !, dan saya akan tinggal di liang kubur !”.
Pernah suatu hari beliau ditanya, “ tidakkah engkau menginginkan sesuatu ? “, aku menjawab, “ saya ingin selalu sehat, pagi hingga malam “, ditanyakan kembali, “ bukankah kamu seharian sehat ?”, aku jawab “ sehat menurutku, tidak menjalankan dosa dari pagi hingga malam hari “.
Beliau adalah seorang yang selalu menyerahkan segala-galanya kepada kehendak Alloh Ta’ala, dan selalu mohon pertolongan hanya dari-Nya, beliau pernah ditangkap oleh tentara Turki pada suatu pertempuran, dan beliau ditelentangkan untuk dibunuh dengan disembelih, beliau tidak takut sama sekali dengan sesuatu yang akan menimpanya, dan nasibnya di tangan tentara Turki tersebut. Yang beliau tunggu hanyalah keputusan dari Alloh Ta’ala untuk beliau, ketika sang prajurit itu menghunuskan pedangnya, untuk menyembelih beliau, tiba-tiba meluncurlah anak panah yang tidak diketahui dari arah mana anak panah itu datang. Dan syukurlah anak panah tersebut menembus dada tentara Turki tersebut, sehingga dia terpental jauh dari beliau dan tersungkur mati.
Pesan penting yang pernah beliau sampaikan kepada segenap pengikut dan para muridnya, “ Barangsiapa mengikuti langkah dan kehidupanku, relakan datangnya empat hal kematian, : Mati putih, karena lapar. Mati hitam, karena menanggung penderitaan dari manusia, Mati merah, karena berbuat ketulusan untuk melawan hawa nafsu, dan Mati hijau karena fitnah.
Share this article

1 Tinggalkan jejak:

Posting Komentar

 
Copyright © 2017 RAUDLATUL ULUM KENCONG • All Rights Reserved.
back to top