Sabtu, 06 Februari 2016

Kajian tentang Agama Islam



  1. Pengertian Agama
Pemahaman tentang agama ini sangat penting, agar dapat dibedakan dan dipahami apa yang disebut “agama”, apa yang disebut “nama sebuah agama”, dan apa yang disebut “ajaran agama”. Agama adalah institusi religius sebagai wadah bagi seseorang atau sekelompok orang untuk menyembah Tuhannya.
Nama agama adalah nama dari institusi religius seperti islam, Kristen, budha, hindu dan lain-lain. Sedangkan ajaran agama adalah  pesan-pesan yang harus dilakukan dan ditinggalkan oleh semua penganut agama.[1]
Agama secara bahasa “Religion” (Inggris), “Religie” (Belanda), “Religio (Latin) berasal dari kata re + Leg + io, yang artinya:
Leg      = to observe                - mengamati
            = to gather                   - berkumpul / bersama
            = to take up                 - mengambil (njumput,(jawa)
Berdasarkan arti pertama, maka religi berarti terus menerus tanda-tanda daripada hubungan kedewaan. Demikian pebdapat Cicero sarjana Romawi abad ke-5. tapi menurut Servis berasal dari kata re lig io, lig yang berarti “to bind” mengikat. Jadi arti religi yaitu suatu hubungan yang erat manusia dengan maha manusia (Religion is the relationship between human and superhuman).[2]
Agama” (Sansekerta) a = tidak + gama = kacau, jadi “tidak kacau”. Agama adalah suatu peraturan yang mengatur kehidupan manusia agar tidak kacau. Adapula yang mengartikan gama adalah tradisi.[3]
Agama dalam bahasa Al-Qur’an adalah Ad-dien yang berarti: hukum, kerajaan, kekuasaan, tuntunan, pembalasan, kemenangan dan masih banyak lagi. Dari arti tadi bias disimpulkan, bahwa agama adalah penyerahan mutlak dari hamba kepada Tuhan.[4]
Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem / prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.[5]
Menurut Prof. Dr. Bouquet, agama adalah hubungan yang tetap antara diri manusia dengan yang bukan manusia yang bersifat suci dan bersifat supernatuur, dan yang bersifat berada dengan sendirinya dan yang mempunyai kekuasaan absolute yang disebut Tuhan.[6]
Drs. Sidi Gazalba mendefinisikan bahwa agama adalah hubungan manusia dengan Yang Maha Kudus, hubungan mana menyatakan diri dalam bentuk kultus dan sikap hidup berdasarkan doktrin-doktrin tertentu.[7]
Menurut Durkheim agama adalah suatu sistem kepercayaan dan praktek yang telah dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal yang kudus kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek yang bersatu menjadi komunitas moral yang tunggal.[8]
Jadi agama menurut arti luas adalah suatu peraturan Tuhan untuk mengatur hidup manusia, atau Peraturan Tuhan untuk mengatur hidup dan kehidupan manusia guna mencapai kesempurnaan hidupnya menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.[9]

  1. Macam-macam Agama
Agama dilihat dari sunbernya dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu;
a)      Agama Wahyu (revealed religion) atau agama samawi. Agama Wahyu adalah agama yang ajarannya diwahyukan oleh Allah (Tuhan) kepada umat manusia melalui Rasul-Nya.
b)      Agama Ra’yu (cultural religion/natural religion), agama ardhi, agama bumi, agama budaya dan agama alam. Agama Ra’yu adalah agama yang ajaran-ajarannya diciptkan oleh manusia sendiri, tidak diwahyukan oleh Allah melalui Rasul-Nya.[10]
Selain pembagian di atas, bila ditinjau dari segi penganutnya maka agama-agama itu dapat dibagi menjadi tiga macam:
a)    Agama lokal, yang dianut oleh suatu masyarakat tertentu, seperti agama-agama suku-suku bangsa yang masih primitive di Afrika, Amerika, Australia, dan Irian Barat.
b)   Agama Nasional, yang dianut oleh satu bangsa yang tertentu misalnya, agama Zoroaster, Yahudi, Shinto, Mesir Kuno dan sebagainya.
c)    Agama Dunia, (Universal) yang dianut oleh berbagai bangsa di dunia, seperti agama Budha, Kristen dan Islam.[11]

  1. Ciri-ciri Agama
Untuk mengetahui ciri-ciri agama itu sendiri bisa dibedakan masing-masing, yaitu:
A. Agama Wahyu
a)      Agama wahyu dapat dipastikan kelahirannya
b)      Disampaikan melalui utusan atau Rasul Allah
c)      Memiliki kitab suci yang keontetikannya bertahan tetap
d)     System berfikirnya tidak inhern dengan berfikir tiap segi kehidupan masyarakat, malahan menuntut supaya system merasa dan berfikir mengabdikan diri kepada agama
e)      Ajarannya serba tetap, tetapi tafsiran dan pandangannya dapat berubah dengan perubahan akal
f)       Konsep ketuhanannya monoteisme mutlak
g)      Kebenaran prinsip-prinsip ajarannya tahan terhadap kritik akal
h)      System nilai ditentukan oleh Allah sendiri yang diselaraskan dengan ukuran dan hakikat kemanusiaan
i)        Melalui agama wahyu Allah memberi petunjuk, pedoman, tuntunan dan peringatan kepada manusia dalam pembentukan insane kamil (sempurna) yang bersih dari dosa.
B. Agama Ra’yu
a)      Agama ra’yu tidak dapat dipastikan kelahirannya
b)      Tidak mengenal utusan atau Rasul Allah
c)      Tidak memiliki kitab suci
d)     Sistem berfikirnya inhern dengan berfikir tiap segi kehidupan
e)      Ajarannya berubah seiring perubahan masyarakat yang menganut, atau oleh filosofnya
f)       Konsep ketuhanannya dinamisme, animisme, politeisme paling tinggi monoteisme nisbi
g)      Kebenaran prinsip-prinsip ajarannya tak tahan terhadap kritik akal
h)      Nilai agam ditentukan oleh manusia sesuai dengan cita-cita, pengalaman, penghayatan masyarakat penganutnya
i)        Pembentukan manusia disandarkan pada pengalaman dan penghayatan masyarakat penganutnya yang belum tentu diakui oleh masyarakat lain.[12]

Menurut Profesor Charles Adams, seorang ilmuwan, pendeta agama Kristen Protestan (1971) mengatakan bahwa, kitab suci yang masih asli memuat wahyu Tuhan hanyalah Al-Qur’an.[13]
  1. Pengertian Agama Islam
Agama islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Dengan agama inilah Allah menutup agama sebelumnya. Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-hambaNya. Dengan agama islam ini pula Allah menyempurnakan nikmat atas mereka.[14]
Agama islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w. dari Allah SWT. dan dipelihara serta difahamkan dengan rapid an teliti oleh para sahabatnya dan orang-orang pada jaman sahabat itu.[15]
Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad . Dengan Islam, Allah mengakhiri serta menyempurnakan agama-agama lain untuk para hambanya. Dengan Islam pula, Allah menyempurnakan kenikmatanNya, dan meridlai Islam sebagai dinnya. Oleh karena itu tidak ada lain yang patut diterima selain Islam.[16]
Islam (Arab: al-islām, الإسلام  "berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Dengan lebih dari satu seperempat miliar orang pengikut di seluruh dunia, menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen. Islam memiliki arti "penyerahan", atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: الله, Allāh). Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti "seorang yang tunduk kepada Tuhan", atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.[17]
Islam berasal dari kata Arab “Aslama-Yuslimu-Islaman” artinya, tunduk, patuh, menyerahkan diri. Kata Islam juga diambil dari kata dasar salama atau salima yang artinya selamat, sejahtera, tidak cacat, tidak tercela. Dari akar kata salama itu juga terbentuk kata salamun, silmun artinya damai patuh dan menyerahkan diri.[18]
Kata triliteral semitik 'S-L-M' menurunkan beberapa istilah terpenting dalam pemahaman mengenai keislaman, yaitu Islam dan Muslim. Kesemuanya berakar dari kata Salam yang berarti kedamaian. Kata Islam lebih spesifik lagi didapat dari bahasa Arab Aslama, yang bermakna "untuk menerima, menyerah atau tunduk" dan dalam pengertian yang lebih jauh kepada Tuhan.[19]
Untuk mempermudah pembahasan, maka arti dari kata Islam yaitu  kata aslama, silmun, sulamun, salam sebagai berikut;
a.       Aslama yang artinya menyerah, berserah diri, tunduk, patuh, dan masuk Islam. dengan demikian Islam dengan makna tersebut berarti agama yang mengajarkan penyerahan diri kepada Allah, tunduk dan taat kepada hukum Allah tanpa tawar menawar. Kata aslama terdapat dalam al-Quran surat al-Baqarah: 112, surat Ali Imron: 20 dan 83, surat an-Nisa: 125 dan surat al-Anam: 14.
b.      Silmun yang artinya keselamatan dan perdamaian. Dengan makna tersebut berarti Islam adalah agama yang mengajarkan hidup damai, tentram, dan selamat. Kata silmun terdapat dalam al-quran surat al-Baqarah; 208 dan surat Muhammad: 35.
c.       Sulamun yang artinya tangga, sendi dan kendaraan. Dengan arti tersebut, islam berarti agama yang memuat peraturan yang dapat mengangkat derajat kemanusiaan manusia dan mengantarkannya kepada kehidupan yang bahagia dan sejahtera di dunia dan akhirat.
d.      Salam yang artinya selamat, aman sentosa, dan sejahtera. Dengan demikian Islam dengan makna tersebut berarti aturan hidup yang dapat menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat. Kata salam terdapat dalam al-Quran Surat al-Anam :45, Surat al-Araf: 46 dan Surat an-Naml: 32.[20]

Dengan demikian secara bahasa, makna Islam dapat dirangkum sebagai berserah diri kepada Allah SWT untuk tunduk dan taat kepada hukum-Nya (aslama) sehingga dirinya siap untuk hidup damai dan menebar perdamaian dalam masyarakat (silmun) dalam rangka untuk menaiki tangga atau kendaraan kemuliaan (sulamun) yang akan membawanya kepada kehidupan sejahtera dunia dan akhirat (salamun).
Dari uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa kata Islam dari segi kebahasaan mengandung arti patuh, tunduk, taat, dan berserah diri kepada Allah swt. dalam upaya mencari keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Hal itu dilakukan atas kesadaran dan kemauan diri sendiri, bukan paksaan atau berpura-pura, melainkan sebagai panggilan dari fitrah dirinya sebagai makhluk yang sejak dalam kandungan telah menyatakan patuh dan tunduk kepada Allah.
Islam menurut Prof. Dr. Harun Nasution:
“Islam adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad saw. sebagai Rasul. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenal satu segi, tetapi menganal berbagai segi dari kehidupan manusia.[21]

Sementara itu Maulana Muhammad Ali mengatakan:
“Bahwa Islam adalah agama perdamaian; dan dua ajaran pokoknya, yaitu keesaan Allah dan kesatuan atau persaudaraan umat manusia menjadi bukti nyata bahwa agama Islam selaras benar dengan namanya. Islam bukan saja dikatakan sebagai agama seluruh Nabi Allah, sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an, melainkan pula pada segala sesuatu yang secara tak sadar tunduk sepenuhnya pada undang-undang Allah.[22]

Di kalangan masyarakat Barat, Islam sering diidentikkan dengan istilah Muhammadanism dan Muhammedan.[23] Peristilahan ini timbul karena pada umumnya agama di luar Islam namanya disandarkan pada nama pendirinya. Di bangsa Media dan Persia misalnya ada agama Zoroaster. Agama ini disandarkan pada nama pendirinya, Zarathustra seorang dari suku Spitama (660-583 SM).[24] Agama lainnya, misalnya agama Budha, agama ini dinisbahkan kepada tokoh pendirinya, Sidharta Gautama Budha (560-480 SM).[25] Demikian pula nama agama Yahudi yang disandarkan pada orang-orang Yahudi (Jews) yang berasal dari negara Juda (Judea) atau Yahuda.[26] Dengan demikian, Islam berarti penerimaan dari dan penyerahan diri kepada Tuhan, dan penganutnya harus menunjukkan ini dengan menyembah-Nya, menuruti perintah-Nya, dan menghindari politheisme.
Sedangkan kata agama, menurut bahasa Al-Qur’an banyak digunakan kata din, istilah lainya juga digunkan adalah millah, shalat. Din dalam bahasa Smit berarti Undang-undang atau hukum. Dalam Al-Qur’an kata din mempunyai arti berbeda-beda:
a)       Din berarti “agama” dalam surat Al-fath: 28 disebutkan:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا.
Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. dan cukuplah Allah sebagai saksi”.[27]
b)      Din berarti “kekuatan” dalam surat Luqman: 32 disebutkan:
وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلا كُلُّ خَتَّارٍ كَفُورٍ.
“Dan apabila mereka digulung ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. dan tidak ada yang mengingkari ayat- ayat Kami hanyalah penghianat yang tidak berterima kasih.[28]
c)      Din berarti “pembalasan hari Qiyamat” dalam surat Asy-Syu’araa: 82 disebutkan:
وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ .
 Dan Yang sangat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat".[29]
Islam adalah nama yang diberikan oleh Allah sendiri, dibeberapa ayat Al-Qur’an menyebutkannya sebagai berikut:
1.      Dalam Surat Ali Imran : 19:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ.
“Sesungguhnya agama disisi Allah ialah Islam.[30]
2.      Dalam Surat Ali Imran : 85
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
“Barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi”.[31]
3.      Dalam Surat Al-Ma’idah : 3
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا.
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu”.[32]
Jika kedua kata tersebut din dan islam bila digabungkan menjadi Dinul Islam yang biasa juga dipakai istilah agama islam. Menurut Abdullah Al-Masdoosi (cendekiawan muslim asal Pakistan) mengatakan: menurut pandangan islam, agama adalah kaidah hidup yang diturunkan kepada ummat manusia, sejak manusia digelar diatas buana ini, dan terbina dalam bentuknya yang terakhir dan sempurna dalam Al-Qur’an yang suci yang diwahyukan Allah kepada Nabi-Nya yang terakhir yakni Muhammad bin Abdillah sebagai Rasulullah SAW., satu kaidah hidup yang memuat tuntunan yang jelas dan lengkap mengenai aspek hidup manusia baik spiritual maupun material.[33]
Jadi Agama Islam adalah agama Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw untuk disampaikan dan diteruskan kepada seluruh umat manusia yang mengandung ketentuan keimanan (aqidah) dan ketentuan-ketentuan ibadah dan mu’amalah (syariah) yang memnentukan proses berfikir, merasa dan berbuatdan proses terbentuknya kata hati.
  1. Sejarah Agama Islam
Islam bermula pada tahun 611 ketika wahyu pertama diturunkan kepada rasul yang terakhir yaitu Muhammad bin Abdullah di Gua Hira', Arab Saudi.
Nabi Muhammad dilahirkan di Mekkah pada tanggal 12 Rabi’ul Awal Tahun Gajah bertepatan dengan tanggal 20 April 571 M.[34] Ia dilahirkan di tengah-tengah suku Quraish pada zaman jahiliyah, dalam kehidupan suku-suku padang pasir yang suka berperang dan menyembah berhala. Muhammad dilahirkan dalam keadaan yatim, sebab ayahnya Abdullah wafat ketika ia masih berada di dalam kandungan. Pada saat usianya masih 6 tahun, ibunya Aminah meninggal dunia. Sepeninggalan ibunya, Muhammad dibesarkan oleh kakeknya Abdul Muthalib dan dilanjutkan oleh pamannya yaitu Abu Thalib. Muhammad kemudian menikah dengan seorang janda bernama Siti Khadijah dan menjalani kehidupan secara sederhana.
Ketika Muhammad berusia 40 tahun, ia mulai mendapatkan wahyu yang disampaikan Malaikat Jibril, dan sesudahnya selama beberapa waktu mulai mengajarkan ajaran Islam secara tertutup kepada para sahabatnya. Setelah tiga tahun menyebarkan Islam secara sembunyi-sembunyi, ia akhirnya menyampaikan ajaran Islam secara terbuka kepada seluruh penduduk Mekkah, yang mana sebagian menerima dan sebagian lainnya menentangnya.
Pada tahun 622 Masehi, Muhammad dan pengikutnya berpindah ke Madinah. Peristiwa ini disebut Hijrah, peristiwa itu menjadi dasar acuan permulaan perhitungan kalender Islam. Di Madinah, Muhammad dapat menyatukan orang-orang anshar (kaum muslimin dari Madinah) dan muhajirin (kaum muslimin dari Mekkah), sehingga umat Islam semakin menguat. Dalam setiap peperangan yang dilakukan melawan orang-orang kafir, umat Islam selalu mendapatkan kemenangan. Dalam fase awal ini, tak terhindarkan terjadinya perang antara Mekkah dan Madinah.
Keunggulan diplomasi nabi Muhammad pada saat perjanjian Hudaibiyah, menyebabkan umat Islam memasuki fase yang sangat menentukan. Banyak penduduk Mekkah yang sebelumnya menjadi musuh kemudian berbalik memeluk Islam, sehingga ketika penaklukan kota Mekkah oleh umat Islam tidak terjadi pertumpahan darah. Ketika Muhammad wafat, hampir seluruh Jazirah Arab telah memeluk agama Islam.

C.    Peranan Pondok Pesantren dalam Penyebaran Agama Islam

Dalam membicarakan masalah peranan Pondok Pesantren dalam penyebaran agama islam, kiranya akan lebih baik ditinjau dahulu masalah  yang berkaitan dengan permasalahan umum yaitu tentang peranan Pondok Pesantren dalam pembangunan masyarakat.
Pesantren pada mulanya merupakan pusat penggemblengan nilai-nilai dan penyiaran agama Islam. Namun, dalam perkembangannya, lembaga ini semakin memperlebar wilayah garapannya yang tidak melulu mengakselerasikan mobilitas vertical (dengan penjejelan materi-materi keagamaan), tetapi juga mobilitas horizontal (kesadaran sosial). Pesantren kini tidak lagi berkutat pada kurikulum yang berbasis keagamaan (regional-based curriculum) dan cenderung melangit, tetapi juga kurikulum yang menyentuh persoalan kikian masyarakat (society-based curriculum). Dengan demikian, pesantren tidak bisa lagi didakwa semata-mata sebagai lembaga keagamaan murni, tetapi juga (seharusnya) menjadi lembaga sosial yang hidup yang terus merespons carut marut persoalan masyarakat di sekitarnya.
Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua yang merupakan produk budaya Indonesia. Keberadaan Pesantren di Indonesia dimulai sejak Islam masuk negeri ini dengan mengadopsi sistem pendidikan keagamaan yang sebenarnya telah lama berkembang sebelum kedatangan Islam. Sebagai lembaga pendidikan yang telah lama berurat akar di negeri ini, Pondok Pesantren diakui memiliki andil yang sangat besar terhadap perjalanan sejarah bangsa.
Banyak pesantren di Indonesia hanya membebankan para santrinya dengan biaya yang rendah, meskipun beberapa pesantren modern membebani dengan biaya yang lebih tinggi. Meski begitu, jika dibandingkan dengan beberapa institusi pendidikan lainnya yang sejenis, pesantren modern jauh lebih murah. Organisasi massa (ormas) Islam yang paling banyak memiliki pesantren adalah Nahdlatul Ulama (NU). Ormas Islam lainnya yang juga memiliki banyak pesantren adalah Al-Washliyah dan Hidayatullah.[35]
Dasar pembangunan nasional adalah pembangunan masnusia seutuhnya dan pembangunan selurh masyarakat Indonesia yang berlandaskan Pancasila, dan Undang-Undang 45. Untuk mewujudkan hal tersebut pemerintah bukan saja telah mempercayakan pada lembaga pendidikan formal saja, melainkan juga telah mempercayakan pada lembaga non formal, seperti pondok pesaantren. Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang tua turut membina kerakter bangsa.
Menurut KH. M. Yusuf Hasyim: Pondok Pesantren tidak sekedar mencetak individu pendakwah yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar, melainkan pesantren sebagai lembaga itu sendirilah yang berperan sebagai pendakwah, dan bahkan telah menjadi prototipe dakwah bil alhal bagi masyarakat.[36]
Di atas penulis sebutkan, bahwa pesantren berfungsi sebagai lembaga pendidikan, da’wah dan kemasyarakatan bahkan lembaga perjuangan. Kelebihan  yang selama ini dimiliki pesantren tentunya menjadi aspek pendukung yang kuat bagi kehidupan kultur pesantren hingga saat ini.
Secara mendasar peranan Pondok Pesantren yang lebih fungsional dan berpotensi antara lain sebagai berikut :
a)      Pusat kajian islam
Pada dasarnya Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang mendalami dan mengkaji berbagai ajaran dan ilmu pengetahuan agama islam melalui buku-buku klasik atau modern berbahasa arab. Dengan demikian secara tidak lansung Pondok Pesantren  telah menjadikan posisinya sbagai pusat pengkajian masalah keagamaan islam, dalam kata lain Pondok Pesantren berperan sebagai pusat kajian Islam.
b)      Pusat pengenbangan dakwah
Dakwah Islamiyah dapat diartikan sebagai penyebaran atau penyiaran ajaran dan pengetahuan agama islam yang dilakukan secara islami, baik itu berupa ajakan atau seruan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan maupun berupa uswah hasanah (contoh yang baik).
Peranan Pondok Pesantren sebagai pusat pengembangan Dakwah Islamiyah dapat dikategorikan kedalam tiga peranan pokok.
1)      Peranan Institusi/Kelembagaan.
 Dakwah Islamiyah merupakan hal pokok yang menjadi tugas Pondok Pesantren untuk dilkukan, karena pada mula berdirinya suatu Pondok Pesantren, dakwah merupakan landasan pijak yang dipakai oleh para kyai dan ulama. Dalam upaya mencapai tujuan, Pondok Pesantren menyelenggaran kegiatan pengajian atau tafaqquh fi al-din yang dimaksudkan agar para santri mengerti dan paham secara integral tentang ajaran dan pengetahuan agama islam.
2)      Peranan instrumental
Upaya penyebaran dan pengamalan ajaran agama islam selain dilembagakan dalam tujuan Pondok Pesantren tentunya memerlukan adanya sarana-sarana yang menjadi media dalam upaya aplikasi tujuan tersebut. Dalam wacana inilah peranan Pondok Pesantren sebagai sarana Dakwah Islamiyah tampak sangat berperan dan kemudian melahirkan peranan lain Pondok Pesantren dalam Dakwah Islamiyah dan sumber daya manusia.
3)      Peranan sumber daya manusia
Dalam sistem pendidikan Pondok Pesantren diupayakan pengembangan ketrampilan para santri dalam rangka mencapai tujuan Pondok Pesantren termasuk dalam hal ini tentunya Dakwah Islamiyah. Pondok Pesantren dalam tataran ini berperan dalam menyediakan dan mempersiapkan sumberdaya manusia yang terampil dan capble dalam pemenuhan Dakwah Islamiyah.
      Dalam melaksanakan Dakwah Islamiyah, ada dua metode dakwah yang terkenal; dakwah bi al-lisan (lisan atau seruan) dan dakwah fi al-hal (aksi).
1.      Dakwah bi al-lisan
Dakwah Islamiyah yang dilakukan Pondok Pesantren yang bersifat seruan atau ajakan secara lisan dapat dipahami sebagai sebuah dakwah yang menyerukan kepada anggota masyarakat untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT senantiasa ada dan cukup relevan dengan apa yang terjadi dewasa ini.
2.      Dakwah fi al-hal
Dakwah yang dilakukan dengan aksi atau pemberian contoh adalah salah satu metode dakwah yang efektif dalam upaya mengajak ummat dan masyarakat untuk berbuat kebaikan dan meningkatkan keimanan dan ketakwaan.
c)      Pusat pelayanan beragama dan moral
Pelayan kehidupan beragama di Indonesia tidak menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Namun keterlibatan masyarakat cukup signifikan dalam upaya membantu pemerintah dalam pelayanan beragama ini. Pondok Pesantren sebagai lembaga keagamaan yang mengakar pada masyarakat tentunya memiliki peranan yang cukup besar dalam mengupayakan pelayanan kehidupan beragama dan sebagai benteng ummat dalam bidang akhlak.
d)     Pusat pengembangan solidaritas dan ukhuwah islamiayah
Selain dari bentuk ajakan atau seruan atau pemberian contoh untuk berbuat baik, dakwah islamiyah yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren dapat bermacam-macam bentuknya meskipun dikategorikan sebagai dakwah bi al-hal. Kegiatan ini bahkan lebih efektif dan berpotensi jika diselenggarakan oleh Pondok Pesantren.[37]
Demikian juga, pedoman penyebaran dan pengembangan islam mempunyai tiga bagian;
1.      Orang menyeru atau mengajak orang lain kejalan islam dengan “hikmah”
2.      Menyampaikan dengan tutur bahasa yang baik (mauidhotul hasanah).
3.      Manakala harus terjdi adu argumentasi atau berdebat dengan cara yang baik pula.[38]
Dengan demikian Pondok Pesantren telah memberikan keikhlasan sendiri dalam penyelenggaraan kegiatan dengan mentransformasikan dirinya sebagai pusat pengembangan solidaritas dan ukhuwah islamiyah.


[1] Dr. Abd. Chalik, M.Ag dan Ali Hasan Siswanto, M.FIL.I, Pengantar Studi Islam, (Kopertais IV Press, Surabaya, 2010) 5-6
[2] Drs. H. Abu Ahmadi, Sejarah Agama, (CV. Ramadhani, Solo, 1986) 13
[3] Dr. Abd. Chalik, M.Ag dan Ali Hasan Siswanto, M.FIL.I, Pengantar Studi Islam, (Kopertais IV Press, Surabaya, 2010) 6
[4] Drs. H. Abu Ahmadi, Sejarah Agama, (CV. Ramadhani, Solo, 1986) 14
[5] Dr. Abd. Chalik, M.Ag dan Ali Hasan Siswanto, M.FIL.I, Pengantar Studi Islam, (Kopertais IV Press, Surabaya, 2010) 6
[6] Drs. H. Abu Ahmadi, Sejarah Agama, (CV. Ramadhani, Solo, 1986) 14
[7] Ibid. hal. 14
[8] Dr. Abd. Chalik, M.Ag dan Ali Hasan Siswanto, M.FIL.I, Pengantar Studi Islam, (Kopertais IV Press, Surabaya, 2010) 7
[9] Drs. H. Abu Ahmadi, Sejarah Agama, (CV. Ramadhani, Solo, 1986) 14
[10] Dr. Abd. Chalik, M.Ag dan Ali Hasan Siswanto, M.FIL.I, Pengantar Studi Islam, (Kopertais IV Press, Surabaya, 2010) 7-8
[11] Drs. H. Abu Ahmadi, Sejarah Agama, (CV. Ramadhani, Solo, 1986) 21
[12] Dr. Abd. Chalik, M.Ag dan Ali Hasan Siswanto, M.FIL.I, Pengantar Studi Islam, (Kopertais IV Press, Surabaya, 2010) 8-9
[13] Ibid. hal 9-10
[14] Ibid. hal 15
[15] Drs. H. Abu Ahmadi, Sejarah Agama, (CV. Ramadhani, Solo, 1986) 157
[17] http://id.wikipedia.org/wiki/Islam diakses tanggal 28 Oktober 2012
[18] Dr. Abd. Chalik, M.Ag dan Ali Hasan Siswanto, M.FIL.I, Pengantar Studi Islam, (Kopertais IV Press, Surabaya, 2010) 15
[19] http://id.wikipedia.org/wiki/Islam diakses tanggal 28 Oktober 2012
[20] http://ummgl.blogdetik.com/2010/05/06/pengertian-islam-menurut-bahasa/ diakses pada tanggal 27 Oktober 2012
[22] Ibid
[23] Ibid
[24] Drs. H. Abu Ahmadi, Sejarah Agama, (CV. Ramadhani, Solo, 1986) 43
[25] Ibid hal. 99
[26] Ibid hal. 110-111
[27] Mushaf Al-Quran Terjemah, (Al-Huda, 2005) 515
[28] Ibid hal. 415
[29] Ibid hal. 371
[30] Ibid hal. 53
[31] Ibid hal. 62
[32] Ibid hal. 108
[33] Dr. Abd. Chalik, M.Ag dan Ali Hasan Siswanto, M.FIL.I, Pengantar Studi Islam, (Kopertais IV Press, Surabaya, 2010) 16
[34] Drs. Muhajir, Sejarah 25 Nabi dan Rasul, (S.A. Alaydrus, Jakarta, tt) 119
[35] http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren diakses pada tanggal 21 Oktober 2012
[36] M. Dian Nafi’, Abd A’la, Hindun Anisah, Abdul Aziz dan Abdul Muhaimin, Praksis Pembelajaran Pesantren, (Insite For Training and Defelopment (ITD) Amherst, MA, Forum Pesantren, Yayasan selasih. Yogyakarta. 2007) 62
[37] Pola Pengembangan Pondok Pesantren, DT.II.II (Departemen Agama RI, Jakarta, 2003) 82-98
[38] H. A. Malik Fadjar, Visi Pembaruan Pendidikan Islam, (LP3NI, Jakarta, 1998)  191
Share this article

0 Tinggalkan jejak:

Posting Komentar

 
Copyright © 2017 RAUDLATUL ULUM KENCONG • All Rights Reserved.
back to top